Senin, 09 Oktober 2017

Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami hal-hal yang dapat kita duga berdasarkan ekspektasi maupun hal-hal yang tak terduga atau diluar jangkauan perkiraan kita. Terlalu sering berseberangan antara rencana dan kenyataan, tapi tak sedikit juga yang berjalan sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan. Pola keadaan yang sedemikian kompleks membuat kita selalu berpikir dan cermat untuk mengobservasi peristiwa yang terjadi untuk kita jadikan pelajaran di peristiwa mendatang. Kesimpulan atas apa yang telah terjadi akan menjadi acuan tolak ukur pengembangan kedewasaan berpikir. Prinsip akan menjadi peneguh pikiran yang sangat dinamis. "Pikiran sangat mudah berubah, untuk membuatnya menjadi ajeg maka harus menggunakan sumpah", begitu kira-kira ucap Sunan Kalijaga saat menasihati Kanjeng Sultan Hadiwijaya, Sang Raja dari Kerajaan Pajang saat memberikan hadiah perang berupa tanah perdikan di alas mentaok (sekarang Yogyakarta) kepada Ki Ageng Pemanahan. Harus menggunakan prinsip yang kuat untuk menegakkan dan memantapkan jalan pikiran.

Jalan pikiran yang baik akan berbuah hasil yang baik dan jalan pikiran yang tercela atau buruk akan menghasilkan sesuatu yang buruk. Secara teoritis kira-kira seperti itu. Tapi tak jarang juga kita mengalami atau menemukan hal yang justru terbalik atas teori itu. Melakoni hal yang baik malah mendapatkan timbal balik yang tak sesuai, melakoni hal yang tercela malah mendapat sanjungan yang amat baik. Kadang-kadang implementasinya sering seperti itu, tapi kembali pada Hakikat : bahwa jika kita menanam kebaikan, maka kita akan memanen kebaikan, begitupun sebaliknya. Dalam falsafah Jawa biasa disebut Ngunduh Wohing Pakarti. Apa yang kita peroleh, sebenarnya adalah hasil dari tindakan kita sendiri dan atas KehendakNya.  
"Tetapi, mengapa yang kita dapatkan selalu tidak sesuai dengan kebaikan maupun keburukan kita?"
"Bahkan yang melakoni keburukan-pun malah mendapatkan pujian baik"

Teori memang tidak serta merta sama dengan realisasi. Semua menyadari itu. Tetapi dasar-dasar dari realisasi itu harus mempunyai pondasi yang kuat berupa teori.
Bahwa jika kamu mendapatkan hasil yang tak sesuai dengan rencanamu, dengan pola kebaikan dan keburukanmu, maka yang perlu diobservasi adalah prosesnya.

"Sejauh ini, saya mempunyai dua kemungkinan untuk menjawab keadaan tersebut"
Saat memberi interupsi kepada Rama Parasu, Paman Togog (Mas-nya Semar) pernah berkata, "Gagal itu kan hanya cara kita menamai hasil yang sesuai dengan kehendak Tuhan, tapi tak sesuai dengan kehendak kita." Artinya yang pertama, semua garis ini adalah kehendak Yang Maha Esa, kita tidak mempunyai kehendak untuk memastikan bahwa teori-teori tersebut benar adanya, yang kita mampu lakukan hanya terus mencari jalan kebenaran dan kebaikan. Ingat, dalam hal-hal tersebut kita tidak mempunyai kewenangan untuk memberi kepastian!
Dan yang perlu diingatkan lagi adalah Gusti Mboten Sare.
Tidak jadi masalah yang krusial juga jika kebaikan atau keburukan kita tidak mendapatkan timbal balik yang materialistik.

Kesimpulan yang paling empiris untuk menjawab keadaan itu adalah Momentum.
Ya, semua butuh waktu, semua ada waktunya, semua ada masa aktifnya. Semua waktu harus dijaga, dirawat dan kita tunggu, maka jawaban yang paling tepat untuk menunggu waktu adalah Kesabaran, dan tertempalah entry-point Kemuliaan.
"Apa setelah kita menanam padi, seminggu kemudian padi tersebut sudah bisa menjadi nasi untuk kita nikmati menjadi makanan pokok sehari-hari?"
"Tidak!"
"Kamu benar, tapi bisa saja kamu salah"
"Lho, memang benar begitu bukan? Seperti yang kamu bilang. Bahwa kebaikan atau keburukan membutuhkan proses untuk mencapai hasilnya."
"Bukan! jika Tuhan punya rencana untuk menjadikan padi tersebut langsung menjadi nasi dan siap untuk dimakan bagaimana?!"
"Lalu? Jadi itu tidak benar?"
"Tidak!"
"Lho?"
"Itu menurut saya saja, bisa jadi tidak sesuai dengan kehendakNya."


Yogyakarta, 9 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar