Senin, 09 Oktober 2017

Bayangan itu Ada



            Ada pepatah mengatakan,”jangan menggantungkan dirimu kepada orang lain, karena bayanganmu akan meninggalkanmu saat gelap”. Secara riil apa yang bisa kita rasakan tentang bayangan?. Di saat diri kita tersorot oleh partikel cahaya, ya partikel cahaya, bukan cahaya!. Saat kita tersorot oleh partikel cahaya, sering kita melihat secara kasat mata ada hitam-hitam disekitar kita, yang biasa kita sebut bayangan. Padahal secara pandangan yang lebih ensensial bayangan itu sebenarnya ya bukan hanya itu-itu saja, bukan hanya hitam-hitam di sekitar kita, bukan hanya pantulan diri kita yang muncul saat kita tersorot oleh partikel cahaya. Jika kita perhatikan dan cermati lebih dalam, hitam-hitam yang kita maksud bayangan itu kan yang selalu ada disekitar kita jika ada partikel cahaya yang menerjang diri kita, entah itu available light atau artificial light. Hitam-hitam itu selalu ada di depan kita saat kita membelakangi cahaya, ada di belakang kita saat kita ada di depan cahaya, selalu ada disamping kanan-kiri kita jika cahaya ada di samping-samping kita dan ada disamping kanan-kiri-depan-belakang kita saat cahaya itu ada tepat diatas ubun-ubun kita. Mereka terus ada selama masih ada partikel cahaya.”Lalu jika tidak cahaya, kemana mereka pergi?”.
Secara ilmiah itu hanya kondisi tidak adanya pembiasan cahaya yang disebabkan oleh ada dan tidaknya partikel cahaya, maka tidak ada proses pembiasan cahaya dan partikel cahaya tidak dapat diproses menjadi bayangan.

            Setiap manusia itu memiliki naluri, rasa dan jiwa bayangan yang hidup, mungkin kadang-kadang biasa disebut roh. Bayangan adalah sahabat diri kita yang ada di dalam kelokan nurani kita. Jika dianalogikan, roh adalah software kita, tetapi bayangan itu ada dari unsur kedua-duanya, ya software ya hardware. Penyambung antara roh dan jasad. Banyak perumpamaan dan simulasi mengenai bayangan itu sendiri. Mulai dari hal atau sifat yang sangat konvensional sampai ke hal atau sifat yang tidak masuk ke dalam urat nadi rasa kita. Contoh : saat kita masih kecil, seringkali kita dengan tidak sengaja bermain dengan bayangan kita sendiri, mencoba mengejarnya, mencoba berlari darinya, mencoba menangkapnya, mencoba meraihnya, merasakannya dan masih banyak lagi hal-hal konyol yang kita jalani bersama bayangan saat masa kanak-kanak itu. Kita sangat menyatu dengan bayangan bukan? Kita bermain-main, bergembira ria, bersenang-senang dengannya tanpa mengenal banyangan siapa itu. Toh kita juga tidak tanya yang aneh-aneh tentang mereka, yang penting kita gembira dan senang saat bermain kejar-kejaran bersama mereka. Sangat menyatu sekali, kita dengan bayangan hitam-hitam itu. Mungkin pertanyaan yang umum terlintas adalah ”Siapa dia? Dia adalah aku bukan? Atau aku adalah dia?”. Daripada pusing-pusing memikirankan hal sepertu itu, layaknya anak kecil ya yang penting hanya senang dan asal tidak menangis kan sudah beres, walapun bermain dengan setan sekalipun jika hati senang dan gembira ya apa boleh buat.

            Bayangan itu memang benar selalu ada, jika masih tidak percaya buktikan saja. Saat terik menyambar, silahkan pergi keluar rumah atau pergi ke tempat yang lapang lalu berdiri diatas terik, maka mereka hitam-hitam itu akan muncul disekitar kita, mengeliling kita dan bercerita tentang kita. “Lalu bagaimana saat gelap?” Ya mereka masih tetap ada, tetapi mereka hanya mempunyai intensitas pencahayaan yang sangat minim, lebih minim lagi dibandingkan gelap. Maka dari itu, bayangan saat gelap menjadi tidak kasat mata. “Namun masih bisa dirasakan bukan?” Apapun yang kamu miliki dalam kehidupan ini, dari hal apa saja, mulai dari yang bersifat countable hingga uncountable. Bayanganmu ya mempunyai hak pakai yang sama. Hingga kamu punya mobil sekalipun, bayanganmu ya juga ikut serta untuk memilikinya. Softkill-pun seperti demikian, kamu nambah ilmu ya bayanganmu sama-sama ikut belajar dan nambah ilmu juga. Kamu pikir, jika kamu makan bayanganmu itu kemana? Jangan berpikir saat kamu makan itu nasinya dimakan setan, jadi bayanganmu adalah setan? Bukan. Saat kamu makan nasi sayur, ikan asin, tempe dan minumnya es teh. Dalam regulasi penggunaan hak, otomatis bayanganmu akan ikut merasakan makanan dan minuman itu. Walaupun menurutmu makanan yang sudah kamu kunyah sebanyak 32x atau 33x itu langsung dan hanya turun ke tenggorokan, usus, lambung dan seterusnya. Sebenarnya tidak usah muluk-muluk. Dimanapun dirimu, ya disitu ada bayanganmu. Saat kamu dalam keadaan suka duka, senang sedih, tenang gelisah dan perasaan-perasaan lain yang mampu dicapai oleh kejiwaan manusia, bayanganmu ya tetap saja ada didalam dirimu, tetap saja ada didepanmu ketika kamu sedang membelakangi cahaya. Mau jadi copet,  preman pasar, tukang koran, tukang siomay keliling, tukang parkir, tukang parkir jabatan, pejabat konstitusi maupun negara, perdana menteri, presiden hingga tukang sapu jalan raya-pun bayanganmu akan tetap masih ada didalam dirimu, bersamamu dan yang jelas bayangan tidak akan pernah jauh-jauh pergi dari dirimu. “Sangat loyal bukan?  Begitu kejamnya kita, jika kita mengkhianatinya”

            Dari semua tingkatan, jabatan, kedudukan apapun itu akan kembali menjadi kosong isinya jika mereka menyadari bayangan-bayangan yang dimiliki. Arti yang dimaksudkan  kekosongan dalam bayangan adalah pola nurani. Bayanganlah yang mampu memperlihatkan secara hakiki bahwa sebenarnya kita semua itu sama, namun tetap saja masih banyak dan sebagian besar dari kita belum mau untuk menyadari bayangan. Kamu pikir jika kamu sedang terpuruk, sedih, galau lalu kamu komat-komit sendiri, gremeng-gremeng sendiri, nangis sendiri, bicara keluh-kesah sendiri, kamu itu sendirian? Bukan! Bayangan kan sangat loyal kepadamu. Jika kamu masih bilang sendirian ya ndakpapa, mungkin kamu belum menyadarinya. Coba saja, saat kamu sedang galau atau dilema dan dihadapkan pada sebuah pilihan yang menentukan hidupmu, pasti pertama kali kamu konsultasi adalah dengan bayanganmu. Masih merasa tidak? Ya sadari saja, jika kamu ngomong sendiri lalu kamu jawab sendiri emang kamu pikir itu siapa? Bayanganmu itu selalu berinteraksi dengan dirimu, hanya kamu saja yang mungkin harus mencoba untuk menyadarinya.
Saat kamu sedang emosi hingga menggebu-gebu lalu kamu marah sendiri, sambil berkata ”Aku ini bodoh!”. Lalu seringkali bayanganmu seketika menjawab,”Sudahlah sabar, semua pasti ada hikmahnya kok”.
Jika kamu sedang merasa kesepian, banyak usaha yang dilakukan oleh bayanganmu untuk mencoba menghiburmu agar hampamu lenyap. Saat dirimu sedang merasa kesepian seringkali bayangan mengatakan ”Aku tidak sendirian, aku selalu bersama Tuhan dan Tuhan selalu ada didalam hatiku”, lalu dalam sekejab kamu akan merasa lebih tenang.
Jika kamu sedang bahagia, sering juga bayangan mengingatkan dan menasehatimu ”Ingat, jangan sombong dan selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaanmu itu”, lalu kamu akan rendah hati dan tidak berlebihan.
Jelas pasti masih banyak lagi fenomena-fenomena tentang bayangan itu, yang setiap orang berbeda cara mengalaminya dan menyadarinya.

            Dalam diri kita terdapat tiga unsur yaitu hati, pikiran dan jasad. Hati adalah unsur yang paling kuat diantara pikiran dan jasad. Tetapi dalam konteks yang lebih dibilang realistis, implementasinya adalah hanya pikiran dan jasad yang seringkali mengendalikan diri kita, padahal unsur tersebut mempunyai sisi kelemahan yang kompleks jika tanpa didasari dan dilandasi rasa oleh hati. Namun peran bayangan dalam hal ini yaitu tetap menjadi dirimu yang sejati, yang selalu menemani dirimu dalam keadaan dan fatamorgana apapun. Jangan hianati, jangan tinggalkan dan kenali bayanganmu sendiri. Selalu bersama mereka. Selalu ingat, bahwa bayangan adalah sebuah konsep dan perasaan mengenai dirimu yang hakiki. So, Apakah dirimu sudah bertemu dengan bayangan?         
           
Juwana, 26 Juni 2017
Rizqi Bagus


Tidak ada komentar:

Posting Komentar