Analogi : pakaian. Dalam logika awam pasti banyak yang
menyangka jika orang yang berpakaian merah berarti orangnya juga merah, orang
yang berpakaian putih bersih berarti orangnya terlihat suci, orang yang
berpakaian hitam-hitam artinya terkesan kejam, padahal itu kan parameter subjektif
-visual, pakaian. Tidak ada jaminan untuk melakukan pembenaran terhadap nilai
mengenai suatu konteks. Apa yang kita gunakan, apa yang kita lihat secara kasat
mata, apa yang kita tangkap langsung menggunakan retina, tidak bisa dijadikan
suatu hal yang mutlak untuk melakukan penilaian. Banyak orang yang merasa
dirinya sangat bersih ketika menggunakan pakaian putih. Ada yang merendahkan
dan mencaci ketika melihat orang lain memakai pakaian yang kusut, lusuh dan complang-campling. Ada yang merasa
dirinya paling besar ketika menggunakan pakaian yang lebih besar dari postur
tubuhnya, padahal jika memakai pakaian yang kebesaran kan dilihat lucu. Jika
sedemikian, kambing saja diberi pakaian tuxedo pasti dianggap stylish.
Semua
bagian yang menonjolkan dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia kenakan, itu
adalah indikasi akal-akalan dari politik pencitraan. Coba saja pikirkan, apa mungkin
kalian tau jika orang yang memakai pakaian putih itu bisa saja di dalam
pakaiannya terdapat suatu konsep kemunafikan, walaupun konsep tersebut tidak
langsung terlihat secara materiil, tetapi akhlak. Bisa saja orang yang
berpakaian hitam-hitam layaknya seorang dukun, orang yang berpakaian berantakan
ala gembel jalanan, di dalam pakaiannya malah terdapat beratus kitab kemuliaan nurani
yang menjadi golongan jiwa. Bisa saja lho! Ya kalo kita bisa berpikir bahwa
yang baik itu belum tentu baik, berarti kita juga harus dapat berpikir bahwa
yang buruk itu belum tentu buruk. Alur berpikir dituntut untuk adil, artinya
objektif.
Bukan negative
thinking. Tetapi alangkah baiknya kita mawas diri dan melihat secara lebih
jauh, mengamati dan sedikit membuat penelitian terlebih dahulu, tidak usah
terlalu cepat untuk mengambil keputusan atau menghakimi sebuah pakaian. Toh
sebenarnya kita tidak mempunyai hak umum untuk masalah nilai-menilai dan menghakimi.
Itu hanya cukup digunakan untuk menjadi pandangan dan referensi pribadi.
Terlalu banyak manusia yang menyebut dirinya bersih
karena memakai pakaian yang putih. Itu diri mereka sendiri lho, yang menyebut
bahwa dirinya itu bersih dan pakaian yang mereka gunakan juga bersih. Jika
sudah begitu mereka-lah yang selalu paling merasa. Merasa benar, merasa tanpa
noda, merasa terbebas dari kotoran. Padahal rule
of logic seperti itu terbalik. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah
dan berpotensi untuk melakukan hal-hal hitam dibandingkan orang-orang yang
berpakaian hitam itu sendiri. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah untuk
menyembunyikan kotoran dan noda, karena pakaian mereka terkesan bersih,
seakan-akan pakaian yang mereka gunakan selalu tanpa noda dan rapi. Mereka
lebih berbahaya, karena kehitaman mereka lebih tidak dapat dijangkau oleh kasat
mata. Dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian hitam, mereka lebih susah
dan lebih mudah gelisah. Jika orang-orang hitam ini hendak melakukan sesuatu
atau aktivitas mereka yang berunsur kehitaman juga, mereka akan lebih gampang terinvestigasi
dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian putih, yang lebih mempunyai
potensi untuk menyembunyikan hal yang kehitaman itu. Orang yang berpakaian
hitam juga lebih sering dilema, karena dengan apa yang ia kenakan, ia selalu
menjadi bahan penghakiman seseorang terhadap dirinya. Dirinya selalu dianggap
hitam karena pakaiannya yang berwarna hitam.
Putih, hitam, merah, hijau yang hikiki itu letaknya di
dalam roh.
Warna putih, hitam, merah, hijau hanya sebuah partikel pengantar estetik dari roh. Untuk melakukan kebaikan juga seperti itu. Jika memang roh kita berniat putih, maka ndakusah terlalu menonjolkan warnanya dengan kesombongan, pamer, menujuk dirinya sendiri bahwa dirinya adalah manusia yang suci karena pakaian yang digunakannya bersih. Kebaikan itu sebaiknya ndakusah diumbar, kalo bisa malah jangan sampai ketahuan siapapun jika melakukan kebaikan. Jika warna putih itu dikibar-kibarkan, kebaikan itu dipamerkan dan kebenaran itu digunakan untuk membunuh, maka kita memang perlu bertanya diri, apakah ada maksud dibalik semua warna putih itu?
Langit itu tidak perlu memberi tahu kepada siapapun bahwa dirinya langit. Begitupun sisi yang berlawan dengan putih, artinya hanya berlawanan warna. Belum tentu berlawanan artinya melawan, tidak setuju atau bertolak belakang dengan kebersihan pakaian putih. Itu kan hanya warna. Jangan gampang dibohongi dengan warna. Mereka yang berpakaian hitam juga belum tentu mempunyai langkah yang menyimpang, menurut riset awam. Tetapi cobalah bersama-sama kita menyelami semua yang ada dibalik warn. Jangan gampang membuat keputusan atau menghakimi sesuatu yang hanya terlihat warnanya saja.
Warna putih, hitam, merah, hijau hanya sebuah partikel pengantar estetik dari roh. Untuk melakukan kebaikan juga seperti itu. Jika memang roh kita berniat putih, maka ndakusah terlalu menonjolkan warnanya dengan kesombongan, pamer, menujuk dirinya sendiri bahwa dirinya adalah manusia yang suci karena pakaian yang digunakannya bersih. Kebaikan itu sebaiknya ndakusah diumbar, kalo bisa malah jangan sampai ketahuan siapapun jika melakukan kebaikan. Jika warna putih itu dikibar-kibarkan, kebaikan itu dipamerkan dan kebenaran itu digunakan untuk membunuh, maka kita memang perlu bertanya diri, apakah ada maksud dibalik semua warna putih itu?
Langit itu tidak perlu memberi tahu kepada siapapun bahwa dirinya langit. Begitupun sisi yang berlawan dengan putih, artinya hanya berlawanan warna. Belum tentu berlawanan artinya melawan, tidak setuju atau bertolak belakang dengan kebersihan pakaian putih. Itu kan hanya warna. Jangan gampang dibohongi dengan warna. Mereka yang berpakaian hitam juga belum tentu mempunyai langkah yang menyimpang, menurut riset awam. Tetapi cobalah bersama-sama kita menyelami semua yang ada dibalik warn. Jangan gampang membuat keputusan atau menghakimi sesuatu yang hanya terlihat warnanya saja.
Semua orang, bahkan binatang-pun punya hak untuk memakai
pakaian berwarna apa saja. Menjadi seimbang dengan kewarnaan akan menjadi
bagian dari akhlak, kecuali binatang yang walaupun diberi pakaian warna apa
saja, polah-nya ya akan seperti itu,
tidak punya akal. Jangan gampang membuat draft
penghakiman berdasarkan dimensi warna. Bukan bermaksud untuk berpikir buruk
mengenai warna suatu pakaian, tetapi untuk bahan refleksi saja bahwa apa yang
kita berikan dan apa yang kita lakukan itu akan menjadi bagian dari busana
diri. Bukan warna apa yang kita gunakan, tetapi orientasinya adalah apa yang
kita warnai.
Pada
dasarnya penilaian kita terhadap suatu hal apapun itu hanya sebatas tafsir dan
pencarian diri. Penilaian kita terhadap sesuatu tidak bisa sepenuhnya menjadi
benar, pasti selalu ada misteri yang tidak bisa kita ungkapkan melalui tafsir.
Tetapi semua itu adalah kewajaran manusiawi. Di dalam kehidupan duniawi ini, dimensi
kewarnaan sudah terlalu banyak yang menjadi bahan untuk kita mentahkan.
Juwana, 11 Juli 2017
Rizqi Bagus
Rizqi Bagus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar