Boleh saja jarak, waktu dan keadaan memisahkan kami. Tapi pikiranku tak akan pernah membohongi bahwa aku akan bisa kapan saja berkhayal tentang dia, seakan-akan dia duduk disampingku sembari minum teh berdua. Padahal sia saja jika aku seorang diri untuk menikmati kehangatan teh pada malam itu. Untung saja aku mempunyai khayal yang mampu membuat aku seakan-akan terbang, entah bersama khayalnya atau malah bersama kamu langsung, atau bisa saja sendirian. Tetapi intinya khayalku akan selalu memberikan diriku sesuatu yang indah, yang selalu membuat diriku optimis untuk melakukan hal-hal pesimis menurut diriku sendiri. Jika khayalnya juga menghendaki sesuatu yang sama seperti apa yang dirasakan oleh khayalku, maka kemungkinan besar khayal kami akan saling bertemu di puncak kerinduan yang sangat dalam. Aku dan dia ya seolah-olah tidak berbuat apa-apa, paling hanya menunggu jarak, waktu, dan keadaan untuk menjadi sebuah satuan variabel yang megantarkan kami untuk saling bertemu secara langsung. Tetapi siapa tau jika khayal kami ternyata sudah bercinta diatas sana mewakili perasaan yang tidak bisa dirasakan oleh indera kami. Manis sekali mereka diatas sana, seolah-olah kami sudah bahagia, padahal belum, seolah-olah kami sudah terbang tanpa beban, padahal jelas-jelas kami masih sama-sama menginjak tanah dan menyangga beban berat tubuh, seolah-olah dunia hanya milik kami berdua, padahal kami masih mempunyai dunia masing-masing. Tetapi hanya khayal-lah yang selalu meyakinkan kami, bahwa saat yang kami tunggu-tunggu itu, variabel yang terdiri dari komponen jarak, waktu dan keadaan akan ada masanya, artinya kemungkinan besar ya akan terjadi. Aku juga yakin bahwa khayal mampu menciptakan ketulusan dan kejujuran substansial, menciptakan kebahagian yang hakiki tanpa masuk logika, namun dapat kita rasakan.
Saat khayal berkata,”kala senja”. Itu terlalu muluk-muluk
menurutku, untuk dapat mencapai sebuah satuan variabel yang mampu mempertemukan
jasad kami secara langsung. Kata yang lebih tepat adalah “kala maghrib itu”. Saat
kami ternyata sudah mampu mencapai variable yang sulit itu, akhirnya kami dapat
bertemu dan bertatapan muka secara langsung walaupun terkadang kami masih
saling menjaga image, menjaga tutur
kata dan pola kalimat agar tidak gagap saat ngomong, masih malu-malu jika ada
sesuatu yang seharusnya itu jujur. Niat kami memang sangat kuat untuk saling
bertemu, untuk menyambung jalinan cinta kasih kami dan agar hutang rindu kami
segera terbayar. Namun terjadi sesuatu yang besar saat kami telah ngobrol
selama kurang lebih 30 menit yang garing itu. Secara tiba-tiba ternyata khayal
menghilang, aku bingung dan kelabakan. Aku pun sempat berpikiran buruk terhadap
khayal, bahwa khayal telah menghianatiku, khayal telah menghianti kami berdua. Pikiran
kami mungkin melayang kemana-mana saat itu, aku berpikir bahwa dia telah kecewa
karena khayalnya juga menghilang, tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan
oleh khayal kami diatas sana, diatas pikiranku. Aku juga merasa minder,”apakah
khayalku yang aku pikirkan kemarin itu, ada khayalnya dia juga. Apa aku cuman
berprasangka bahwa khayalku saat itu bersama khayalnya. Atau bisa saja yang aku
pikirkan kemarin itu adalah khayalku bersama khayal yang lain. Berarti
kemungkinan dia tidak berpikiran sama sepertiku, berpikiran bahwa khayal kami
berdua telah berbahagia diatas sana”. 10 detik aku menggumam sendirian di dalam
hati. Ternyata aku langsung mengambil kesimpulan bahwa saat itu khayalku memang
tidak bersama khayalnya, tetapi aku juga mempunyai kesimpulan lain bahwa
khayalku benar sedang mencari khayalnya tetapi memang belum mendapatkannya,
lalu berusahalah khayalku itu untuk berkhayal agar bisa membayangkan sebuah
kisah percintaan dengan khayalnya didalam lorong khayalan. Tambahan 10 detik
lagi untuk mengambil kesimpulan. Tepat 30 menit 21 detik aku bersama dia saat
itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk jujur dan menanyainya mengenai
khayalnya dia.
“Kemarin kamu memikirkan aku? “ tanyaku
“Aku selalu memikirkanmu.” jawabnya
“Memikirkan tentang apa?”
“Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu.”
“Kamu menemukan khayalku disana?”
“Kamu bicara apa? Tidak, aku tidak pernah merasa berkhayal tentang siapapun. Jangan aneh-aneh.” dengan nada sinis
“Lho, bukannya kemarin khayal kita bertemu?”
“Dasar aneh.”
“Kemarin kamu memikirkan aku? “ tanyaku
“Aku selalu memikirkanmu.” jawabnya
“Memikirkan tentang apa?”
“Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu.”
“Kamu menemukan khayalku disana?”
“Kamu bicara apa? Tidak, aku tidak pernah merasa berkhayal tentang siapapun. Jangan aneh-aneh.” dengan nada sinis
“Lho, bukannya kemarin khayal kita bertemu?”
“Dasar aneh.”
Ternyata kesimpulanku benar, tetapi masih ada dua
kemungkinan pada kesimpulanku tersebut. Lalu aku tanyakan kembali padanya,
namun menggunakan bahasa yang bisa lebih dimengerti dan menganalogikan khayal
tersebut dengan sesuatu yang lebih konvensional.
“Kamu
pikir kamu sudah bertemu dengan aku? “ tanyaku
“Secara langsung aku dapat kapan saja bisa bertemu denganmu”.
“Tetapi diriku yang sebenarnya?”
“Belum, aku selalu memikirkanmu dengan tujuan agar aku bisa lebih mengenalimu, maka dari itu aku kadang berpikir kenapa aku dulu bisa mengenalimu.” jawabnya
“Oh begitu ya”
“Hmmm.”
“Secara langsung aku dapat kapan saja bisa bertemu denganmu”.
“Tetapi diriku yang sebenarnya?”
“Belum, aku selalu memikirkanmu dengan tujuan agar aku bisa lebih mengenalimu, maka dari itu aku kadang berpikir kenapa aku dulu bisa mengenalimu.” jawabnya
“Oh begitu ya”
“Hmmm.”
Ada
suatu kepastian yang bisa aku dapatkan dari jawabnya itu, yaitu dia memang
benar-benar serius ingin hidup bersamaku. Ya kalo dilihat dari alasannya. Tapi
setelah aku berpikir lagi ternyata bukan kepastian tapi malah tabu. Bisa saja
setelah dia memikirkanku dan mengenaliku lebih dalam, dia malahan tidak
tertarik dengan aku karena mungkin saja aku bukan tipe yang masuk dalam
kriteria pasangan yang dia cari.
Tetapi
aku harus mempunyai pilihan untuk yakin menjadi diriku sendiri. Tanpa khayalku
lagi, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang membuat diriku jadi bingung sendiri,
akhirnya aku memilih untuk yakin menjadi diriku sendiri. Ternyata dari sesuatu
yang disampaikan oleh khayalku kemarin itu, sangat relevan dengan jawaban dia
tadi,”Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu”. Daripada hal-hal aneh
membebani pikiranku, saat itu aku berpikir yakin saja bahwa kedua hal itu
memang relevan. Bahwa pada saat yang bersamaan, saat aku sedang minum teh, lalu
dia sedang memikirkanku, ternyata khayalan kami memang benar-benar saling
bertemu dengan konteks yang berbeda tetapi dalam ruang waktu yang sama. Dia
sedang memikirkanku untuk mengenaliku, aku sedang minum teh sambil memikirkan
tentang kebahagian kami. Aku merasakan khayalku dan khayalnya, tetapi dia tidak
merasakan apa-apa tentang yang khayal itu. Mungkin bisa saja semua yang aku
tafsirkan kemarin itu salah semua, karena secara rasional untuk melakukan
pembenaran terhadap tafsirku itu memang tidak ada, mungkin malah tidak
nyambung. Namun aku sangat yakin, pasti banyak nilai-nilai krusial yang disampaikan
oleh khayalku kemarin itu. Aku tetap saja merasa bodoh atas khayalku dan merasa
dihianati olehnya walaupun aku sudah mencoba mengganti intensitas pandangku
secara lebih konvensional dan yakin terhadap kenyataan. Kami pulang, dijalan
aku masih berpikir,”apakah dia berbohong tentang khayalnya itu? Padahal
khayalku jelas-jelas bertemu dengan khayalnya diatas sana tapi dia sendiri
bilang tidak pernah merasakan apa-apa”. *ternyata khayal itu hanya bisa dipahami
menggunakan rasa dan naluri cinta, tidak menggunakan ilmu.
Pati,
22 Juni 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar