Senin, 16 Oktober 2017

Etik Pakaian


            Analogi : pakaian. Dalam logika awam pasti banyak yang menyangka jika orang yang berpakaian merah berarti orangnya juga merah, orang yang berpakaian putih bersih berarti orangnya terlihat suci, orang yang berpakaian hitam-hitam artinya terkesan kejam, padahal itu kan parameter subjektif -visual, pakaian. Tidak ada jaminan untuk melakukan pembenaran terhadap nilai mengenai suatu konteks. Apa yang kita gunakan, apa yang kita lihat secara kasat mata, apa yang kita tangkap langsung menggunakan retina, tidak bisa dijadikan suatu hal yang mutlak untuk melakukan penilaian. Banyak orang yang merasa dirinya sangat bersih ketika menggunakan pakaian putih. Ada yang merendahkan dan mencaci ketika melihat orang lain memakai pakaian yang kusut, lusuh dan complang-campling. Ada yang merasa dirinya paling besar ketika menggunakan pakaian yang lebih besar dari postur tubuhnya, padahal jika memakai pakaian yang kebesaran kan dilihat lucu. Jika sedemikian, kambing saja diberi pakaian tuxedo pasti dianggap stylish.
Semua bagian yang menonjolkan dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia kenakan, itu adalah indikasi akal-akalan dari politik pencitraan. Coba saja pikirkan, apa mungkin kalian tau jika orang yang memakai pakaian putih itu bisa saja di dalam pakaiannya terdapat suatu konsep kemunafikan, walaupun konsep tersebut tidak langsung terlihat secara materiil, tetapi akhlak. Bisa saja orang yang berpakaian hitam-hitam layaknya seorang dukun, orang yang berpakaian berantakan ala gembel jalanan, di dalam pakaiannya malah terdapat beratus kitab kemuliaan nurani yang menjadi golongan jiwa. Bisa saja lho! Ya kalo kita bisa berpikir bahwa yang baik itu belum tentu baik, berarti kita juga harus dapat berpikir bahwa yang buruk itu belum tentu buruk. Alur berpikir dituntut untuk adil, artinya objektif.

            Bukan negative thinking. Tetapi alangkah baiknya kita mawas diri dan melihat secara lebih jauh, mengamati dan sedikit membuat penelitian terlebih dahulu, tidak usah terlalu cepat untuk mengambil keputusan atau menghakimi sebuah pakaian. Toh sebenarnya kita tidak mempunyai hak umum untuk masalah nilai-menilai dan menghakimi. Itu hanya cukup digunakan untuk menjadi pandangan dan referensi pribadi.

            Terlalu banyak manusia yang menyebut dirinya bersih karena memakai pakaian yang putih. Itu diri mereka sendiri lho, yang menyebut bahwa dirinya itu bersih dan pakaian yang mereka gunakan juga bersih. Jika sudah begitu mereka-lah yang selalu paling merasa. Merasa benar, merasa tanpa noda, merasa terbebas dari kotoran. Padahal rule of logic seperti itu terbalik. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah dan berpotensi untuk melakukan hal-hal hitam dibandingkan orang-orang yang berpakaian hitam itu sendiri. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah untuk menyembunyikan kotoran dan noda, karena pakaian mereka terkesan bersih, seakan-akan pakaian yang mereka gunakan selalu tanpa noda dan rapi. Mereka lebih berbahaya, karena kehitaman mereka lebih tidak dapat dijangkau oleh kasat mata. Dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian hitam, mereka lebih susah dan lebih mudah gelisah. Jika orang-orang hitam ini hendak melakukan sesuatu atau aktivitas mereka yang berunsur kehitaman juga, mereka akan lebih gampang terinvestigasi dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian putih, yang lebih mempunyai potensi untuk menyembunyikan hal yang kehitaman itu. Orang yang berpakaian hitam juga lebih sering dilema, karena dengan apa yang ia kenakan, ia selalu menjadi bahan penghakiman seseorang terhadap dirinya. Dirinya selalu dianggap hitam karena pakaiannya yang berwarna hitam.

            Putih, hitam, merah, hijau yang hikiki itu letaknya di dalam roh.
Warna putih, hitam, merah, hijau hanya sebuah partikel pengantar estetik dari roh. Untuk melakukan kebaikan juga seperti itu. Jika memang roh kita berniat putih, maka ndakusah terlalu menonjolkan warnanya dengan kesombongan, pamer, menujuk dirinya sendiri bahwa dirinya adalah manusia yang suci karena pakaian yang digunakannya bersih. Kebaikan itu sebaiknya ndakusah diumbar, kalo bisa malah jangan sampai ketahuan siapapun jika melakukan kebaikan. Jika warna putih itu dikibar-kibarkan, kebaikan itu dipamerkan dan kebenaran itu digunakan untuk membunuh, maka kita memang perlu bertanya diri, apakah ada maksud dibalik semua warna putih itu?
Langit itu tidak perlu memberi tahu kepada siapapun bahwa dirinya langit. Begitupun sisi yang berlawan dengan putih, artinya hanya berlawanan warna. Belum tentu berlawanan artinya melawan, tidak setuju atau bertolak belakang dengan kebersihan pakaian putih. Itu kan hanya warna. Jangan gampang dibohongi dengan warna. Mereka yang berpakaian hitam juga belum tentu mempunyai langkah yang menyimpang, menurut riset awam. Tetapi cobalah bersama-sama kita menyelami semua yang ada dibalik warn. Jangan gampang membuat keputusan atau menghakimi sesuatu yang hanya terlihat warnanya saja.

            Semua orang, bahkan binatang-pun punya hak untuk memakai pakaian berwarna apa saja. Menjadi seimbang dengan kewarnaan akan menjadi bagian dari akhlak, kecuali binatang yang walaupun diberi pakaian warna apa saja, polah-nya ya akan seperti itu, tidak punya akal. Jangan gampang membuat draft penghakiman berdasarkan dimensi warna. Bukan bermaksud untuk berpikir buruk mengenai warna suatu pakaian, tetapi untuk bahan refleksi saja bahwa apa yang kita berikan dan apa yang kita lakukan itu akan menjadi bagian dari busana diri. Bukan warna apa yang kita gunakan, tetapi orientasinya adalah apa yang kita warnai.

Pada dasarnya penilaian kita terhadap suatu hal apapun itu hanya sebatas tafsir dan pencarian diri. Penilaian kita terhadap sesuatu tidak bisa sepenuhnya menjadi benar, pasti selalu ada misteri yang tidak bisa kita ungkapkan melalui tafsir. Tetapi semua itu adalah kewajaran manusiawi. Di dalam kehidupan duniawi ini, dimensi kewarnaan sudah terlalu banyak yang menjadi bahan untuk kita mentahkan.
                                                                                   

Juwana, 11 Juli 2017
            Rizqi Bagus

Senin, 09 Oktober 2017

Bayangan itu Ada



            Ada pepatah mengatakan,”jangan menggantungkan dirimu kepada orang lain, karena bayanganmu akan meninggalkanmu saat gelap”. Secara riil apa yang bisa kita rasakan tentang bayangan?. Di saat diri kita tersorot oleh partikel cahaya, ya partikel cahaya, bukan cahaya!. Saat kita tersorot oleh partikel cahaya, sering kita melihat secara kasat mata ada hitam-hitam disekitar kita, yang biasa kita sebut bayangan. Padahal secara pandangan yang lebih ensensial bayangan itu sebenarnya ya bukan hanya itu-itu saja, bukan hanya hitam-hitam di sekitar kita, bukan hanya pantulan diri kita yang muncul saat kita tersorot oleh partikel cahaya. Jika kita perhatikan dan cermati lebih dalam, hitam-hitam yang kita maksud bayangan itu kan yang selalu ada disekitar kita jika ada partikel cahaya yang menerjang diri kita, entah itu available light atau artificial light. Hitam-hitam itu selalu ada di depan kita saat kita membelakangi cahaya, ada di belakang kita saat kita ada di depan cahaya, selalu ada disamping kanan-kiri kita jika cahaya ada di samping-samping kita dan ada disamping kanan-kiri-depan-belakang kita saat cahaya itu ada tepat diatas ubun-ubun kita. Mereka terus ada selama masih ada partikel cahaya.”Lalu jika tidak cahaya, kemana mereka pergi?”.
Secara ilmiah itu hanya kondisi tidak adanya pembiasan cahaya yang disebabkan oleh ada dan tidaknya partikel cahaya, maka tidak ada proses pembiasan cahaya dan partikel cahaya tidak dapat diproses menjadi bayangan.

            Setiap manusia itu memiliki naluri, rasa dan jiwa bayangan yang hidup, mungkin kadang-kadang biasa disebut roh. Bayangan adalah sahabat diri kita yang ada di dalam kelokan nurani kita. Jika dianalogikan, roh adalah software kita, tetapi bayangan itu ada dari unsur kedua-duanya, ya software ya hardware. Penyambung antara roh dan jasad. Banyak perumpamaan dan simulasi mengenai bayangan itu sendiri. Mulai dari hal atau sifat yang sangat konvensional sampai ke hal atau sifat yang tidak masuk ke dalam urat nadi rasa kita. Contoh : saat kita masih kecil, seringkali kita dengan tidak sengaja bermain dengan bayangan kita sendiri, mencoba mengejarnya, mencoba berlari darinya, mencoba menangkapnya, mencoba meraihnya, merasakannya dan masih banyak lagi hal-hal konyol yang kita jalani bersama bayangan saat masa kanak-kanak itu. Kita sangat menyatu dengan bayangan bukan? Kita bermain-main, bergembira ria, bersenang-senang dengannya tanpa mengenal banyangan siapa itu. Toh kita juga tidak tanya yang aneh-aneh tentang mereka, yang penting kita gembira dan senang saat bermain kejar-kejaran bersama mereka. Sangat menyatu sekali, kita dengan bayangan hitam-hitam itu. Mungkin pertanyaan yang umum terlintas adalah ”Siapa dia? Dia adalah aku bukan? Atau aku adalah dia?”. Daripada pusing-pusing memikirankan hal sepertu itu, layaknya anak kecil ya yang penting hanya senang dan asal tidak menangis kan sudah beres, walapun bermain dengan setan sekalipun jika hati senang dan gembira ya apa boleh buat.

            Bayangan itu memang benar selalu ada, jika masih tidak percaya buktikan saja. Saat terik menyambar, silahkan pergi keluar rumah atau pergi ke tempat yang lapang lalu berdiri diatas terik, maka mereka hitam-hitam itu akan muncul disekitar kita, mengeliling kita dan bercerita tentang kita. “Lalu bagaimana saat gelap?” Ya mereka masih tetap ada, tetapi mereka hanya mempunyai intensitas pencahayaan yang sangat minim, lebih minim lagi dibandingkan gelap. Maka dari itu, bayangan saat gelap menjadi tidak kasat mata. “Namun masih bisa dirasakan bukan?” Apapun yang kamu miliki dalam kehidupan ini, dari hal apa saja, mulai dari yang bersifat countable hingga uncountable. Bayanganmu ya mempunyai hak pakai yang sama. Hingga kamu punya mobil sekalipun, bayanganmu ya juga ikut serta untuk memilikinya. Softkill-pun seperti demikian, kamu nambah ilmu ya bayanganmu sama-sama ikut belajar dan nambah ilmu juga. Kamu pikir, jika kamu makan bayanganmu itu kemana? Jangan berpikir saat kamu makan itu nasinya dimakan setan, jadi bayanganmu adalah setan? Bukan. Saat kamu makan nasi sayur, ikan asin, tempe dan minumnya es teh. Dalam regulasi penggunaan hak, otomatis bayanganmu akan ikut merasakan makanan dan minuman itu. Walaupun menurutmu makanan yang sudah kamu kunyah sebanyak 32x atau 33x itu langsung dan hanya turun ke tenggorokan, usus, lambung dan seterusnya. Sebenarnya tidak usah muluk-muluk. Dimanapun dirimu, ya disitu ada bayanganmu. Saat kamu dalam keadaan suka duka, senang sedih, tenang gelisah dan perasaan-perasaan lain yang mampu dicapai oleh kejiwaan manusia, bayanganmu ya tetap saja ada didalam dirimu, tetap saja ada didepanmu ketika kamu sedang membelakangi cahaya. Mau jadi copet,  preman pasar, tukang koran, tukang siomay keliling, tukang parkir, tukang parkir jabatan, pejabat konstitusi maupun negara, perdana menteri, presiden hingga tukang sapu jalan raya-pun bayanganmu akan tetap masih ada didalam dirimu, bersamamu dan yang jelas bayangan tidak akan pernah jauh-jauh pergi dari dirimu. “Sangat loyal bukan?  Begitu kejamnya kita, jika kita mengkhianatinya”

            Dari semua tingkatan, jabatan, kedudukan apapun itu akan kembali menjadi kosong isinya jika mereka menyadari bayangan-bayangan yang dimiliki. Arti yang dimaksudkan  kekosongan dalam bayangan adalah pola nurani. Bayanganlah yang mampu memperlihatkan secara hakiki bahwa sebenarnya kita semua itu sama, namun tetap saja masih banyak dan sebagian besar dari kita belum mau untuk menyadari bayangan. Kamu pikir jika kamu sedang terpuruk, sedih, galau lalu kamu komat-komit sendiri, gremeng-gremeng sendiri, nangis sendiri, bicara keluh-kesah sendiri, kamu itu sendirian? Bukan! Bayangan kan sangat loyal kepadamu. Jika kamu masih bilang sendirian ya ndakpapa, mungkin kamu belum menyadarinya. Coba saja, saat kamu sedang galau atau dilema dan dihadapkan pada sebuah pilihan yang menentukan hidupmu, pasti pertama kali kamu konsultasi adalah dengan bayanganmu. Masih merasa tidak? Ya sadari saja, jika kamu ngomong sendiri lalu kamu jawab sendiri emang kamu pikir itu siapa? Bayanganmu itu selalu berinteraksi dengan dirimu, hanya kamu saja yang mungkin harus mencoba untuk menyadarinya.
Saat kamu sedang emosi hingga menggebu-gebu lalu kamu marah sendiri, sambil berkata ”Aku ini bodoh!”. Lalu seringkali bayanganmu seketika menjawab,”Sudahlah sabar, semua pasti ada hikmahnya kok”.
Jika kamu sedang merasa kesepian, banyak usaha yang dilakukan oleh bayanganmu untuk mencoba menghiburmu agar hampamu lenyap. Saat dirimu sedang merasa kesepian seringkali bayangan mengatakan ”Aku tidak sendirian, aku selalu bersama Tuhan dan Tuhan selalu ada didalam hatiku”, lalu dalam sekejab kamu akan merasa lebih tenang.
Jika kamu sedang bahagia, sering juga bayangan mengingatkan dan menasehatimu ”Ingat, jangan sombong dan selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaanmu itu”, lalu kamu akan rendah hati dan tidak berlebihan.
Jelas pasti masih banyak lagi fenomena-fenomena tentang bayangan itu, yang setiap orang berbeda cara mengalaminya dan menyadarinya.

            Dalam diri kita terdapat tiga unsur yaitu hati, pikiran dan jasad. Hati adalah unsur yang paling kuat diantara pikiran dan jasad. Tetapi dalam konteks yang lebih dibilang realistis, implementasinya adalah hanya pikiran dan jasad yang seringkali mengendalikan diri kita, padahal unsur tersebut mempunyai sisi kelemahan yang kompleks jika tanpa didasari dan dilandasi rasa oleh hati. Namun peran bayangan dalam hal ini yaitu tetap menjadi dirimu yang sejati, yang selalu menemani dirimu dalam keadaan dan fatamorgana apapun. Jangan hianati, jangan tinggalkan dan kenali bayanganmu sendiri. Selalu bersama mereka. Selalu ingat, bahwa bayangan adalah sebuah konsep dan perasaan mengenai dirimu yang hakiki. So, Apakah dirimu sudah bertemu dengan bayangan?         
           
Juwana, 26 Juni 2017
Rizqi Bagus


Khayal Kita


             Boleh saja jarak, waktu dan keadaan memisahkan kami. Tapi pikiranku tak akan pernah membohongi bahwa aku akan bisa kapan saja berkhayal tentang dia, seakan-akan dia duduk disampingku sembari minum teh berdua. Padahal sia saja jika aku seorang diri untuk menikmati kehangatan teh pada malam itu. Untung saja aku mempunyai khayal yang mampu membuat aku seakan-akan terbang, entah bersama khayalnya atau malah bersama kamu langsung, atau bisa saja sendirian. Tetapi intinya khayalku akan selalu memberikan diriku sesuatu yang indah, yang selalu membuat diriku optimis untuk melakukan hal-hal pesimis menurut diriku sendiri. Jika khayalnya juga menghendaki sesuatu yang sama seperti apa yang dirasakan oleh khayalku, maka kemungkinan besar khayal kami akan saling bertemu di puncak kerinduan yang sangat dalam. Aku dan dia ya seolah-olah tidak berbuat apa-apa, paling hanya menunggu jarak, waktu, dan keadaan untuk menjadi sebuah satuan variabel yang megantarkan kami untuk saling bertemu secara langsung. Tetapi siapa tau jika khayal kami ternyata sudah bercinta diatas sana mewakili perasaan yang tidak bisa dirasakan oleh indera kami. Manis sekali mereka diatas sana, seolah-olah kami sudah bahagia, padahal belum, seolah-olah kami sudah terbang tanpa beban, padahal jelas-jelas kami masih sama-sama menginjak tanah dan menyangga beban berat tubuh, seolah-olah dunia hanya milik kami berdua, padahal kami masih mempunyai dunia masing-masing. Tetapi hanya khayal-lah yang selalu meyakinkan kami, bahwa saat yang kami tunggu-tunggu itu, variabel yang terdiri dari komponen jarak, waktu dan keadaan akan ada masanya, artinya kemungkinan besar ya akan terjadi. Aku juga yakin bahwa khayal mampu menciptakan ketulusan dan kejujuran substansial, menciptakan kebahagian yang hakiki tanpa masuk logika, namun dapat kita rasakan.

            Saat khayal berkata,”kala senja”. Itu terlalu muluk-muluk menurutku, untuk dapat mencapai sebuah satuan variabel yang mampu mempertemukan jasad kami secara langsung. Kata yang lebih tepat adalah “kala maghrib itu”. Saat kami ternyata sudah mampu mencapai variable yang sulit itu, akhirnya kami dapat bertemu dan bertatapan muka secara langsung walaupun terkadang kami masih saling menjaga image, menjaga tutur kata dan pola kalimat agar tidak gagap saat ngomong, masih malu-malu jika ada sesuatu yang seharusnya itu jujur. Niat kami memang sangat kuat untuk saling bertemu, untuk menyambung jalinan cinta kasih kami dan agar hutang rindu kami segera terbayar. Namun terjadi sesuatu yang besar saat kami telah ngobrol selama kurang lebih 30 menit yang garing itu. Secara tiba-tiba ternyata khayal menghilang, aku bingung dan kelabakan. Aku pun sempat berpikiran buruk terhadap khayal, bahwa khayal telah menghianatiku, khayal telah menghianti kami berdua. Pikiran kami mungkin melayang kemana-mana saat itu, aku berpikir bahwa dia telah kecewa karena khayalnya juga menghilang, tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh khayal kami diatas sana, diatas pikiranku. Aku juga merasa minder,”apakah khayalku yang aku pikirkan kemarin itu, ada khayalnya dia juga. Apa aku cuman berprasangka bahwa khayalku saat itu bersama khayalnya. Atau bisa saja yang aku pikirkan kemarin itu adalah khayalku bersama khayal yang lain. Berarti kemungkinan dia tidak berpikiran sama sepertiku, berpikiran bahwa khayal kami berdua telah berbahagia diatas sana”. 10 detik aku menggumam sendirian di dalam hati. Ternyata aku langsung mengambil kesimpulan bahwa saat itu khayalku memang tidak bersama khayalnya, tetapi aku juga mempunyai kesimpulan lain bahwa khayalku benar sedang mencari khayalnya tetapi memang belum mendapatkannya, lalu berusahalah khayalku itu untuk berkhayal agar bisa membayangkan sebuah kisah percintaan dengan khayalnya didalam lorong khayalan. Tambahan 10 detik lagi untuk mengambil kesimpulan. Tepat 30 menit 21 detik aku bersama dia saat itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk jujur dan menanyainya mengenai khayalnya dia.
            “Kemarin kamu memikirkan aku? “ tanyaku
            “Aku selalu memikirkanmu.” jawabnya         
            “Memikirkan tentang apa?”
            “Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu.”
            “Kamu menemukan khayalku disana?”
            “Kamu bicara apa? Tidak, aku tidak pernah merasa berkhayal tentang siapapun. Jangan aneh-aneh.” dengan nada sinis
            “Lho, bukannya kemarin khayal kita bertemu?”
            “Dasar aneh.”
            Ternyata kesimpulanku benar, tetapi masih ada dua kemungkinan pada kesimpulanku tersebut. Lalu aku tanyakan kembali padanya, namun menggunakan bahasa yang bisa lebih dimengerti dan menganalogikan khayal tersebut dengan sesuatu yang lebih konvensional.
“Kamu pikir kamu sudah bertemu dengan aku? “ tanyaku
            “Secara langsung aku dapat kapan saja bisa bertemu denganmu”.
            “Tetapi diriku yang sebenarnya?”
            “Belum, aku selalu memikirkanmu dengan tujuan agar aku bisa lebih mengenalimu, maka dari itu aku kadang berpikir kenapa aku dulu bisa mengenalimu.” jawabnya
            “Oh begitu ya”
            “Hmmm.”
Ada suatu kepastian yang bisa aku dapatkan dari jawabnya itu, yaitu dia memang benar-benar serius ingin hidup bersamaku. Ya kalo dilihat dari alasannya. Tapi setelah aku berpikir lagi ternyata bukan kepastian tapi malah tabu. Bisa saja setelah dia memikirkanku dan mengenaliku lebih dalam, dia malahan tidak tertarik dengan aku karena mungkin saja aku bukan tipe yang masuk dalam kriteria pasangan yang dia cari.
Tetapi aku harus mempunyai pilihan untuk yakin menjadi diriku sendiri. Tanpa khayalku lagi, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang membuat diriku jadi bingung sendiri, akhirnya aku memilih untuk yakin menjadi diriku sendiri. Ternyata dari sesuatu yang disampaikan oleh khayalku kemarin itu, sangat relevan dengan jawaban dia tadi,”Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu”. Daripada hal-hal aneh membebani pikiranku, saat itu aku berpikir yakin saja bahwa kedua hal itu memang relevan. Bahwa pada saat yang bersamaan, saat aku sedang minum teh, lalu dia sedang memikirkanku, ternyata khayalan kami memang benar-benar saling bertemu dengan konteks yang berbeda tetapi dalam ruang waktu yang sama. Dia sedang memikirkanku untuk mengenaliku, aku sedang minum teh sambil memikirkan tentang kebahagian kami. Aku merasakan khayalku dan khayalnya, tetapi dia tidak merasakan apa-apa tentang yang khayal itu. Mungkin bisa saja semua yang aku tafsirkan kemarin itu salah semua, karena secara rasional untuk melakukan pembenaran terhadap tafsirku itu memang tidak ada, mungkin malah tidak nyambung. Namun aku sangat yakin, pasti banyak nilai-nilai krusial yang disampaikan oleh khayalku kemarin itu. Aku tetap saja merasa bodoh atas khayalku dan merasa dihianati olehnya walaupun aku sudah mencoba mengganti intensitas pandangku secara lebih konvensional dan yakin terhadap kenyataan. Kami pulang, dijalan aku masih berpikir,”apakah dia berbohong tentang khayalnya itu? Padahal khayalku jelas-jelas bertemu dengan khayalnya diatas sana tapi dia sendiri bilang tidak pernah merasakan apa-apa”. *ternyata khayal itu hanya bisa dipahami menggunakan rasa dan naluri cinta, tidak menggunakan ilmu.  

 Pati, 22 Juni 2017