Esai Antara
Muatan realitas berbentuk Esai
Minggu, 14 Juli 2019
Senin, 16 Oktober 2017
Etik Pakaian
Analogi : pakaian. Dalam logika awam pasti banyak yang
menyangka jika orang yang berpakaian merah berarti orangnya juga merah, orang
yang berpakaian putih bersih berarti orangnya terlihat suci, orang yang
berpakaian hitam-hitam artinya terkesan kejam, padahal itu kan parameter subjektif
-visual, pakaian. Tidak ada jaminan untuk melakukan pembenaran terhadap nilai
mengenai suatu konteks. Apa yang kita gunakan, apa yang kita lihat secara kasat
mata, apa yang kita tangkap langsung menggunakan retina, tidak bisa dijadikan
suatu hal yang mutlak untuk melakukan penilaian. Banyak orang yang merasa
dirinya sangat bersih ketika menggunakan pakaian putih. Ada yang merendahkan
dan mencaci ketika melihat orang lain memakai pakaian yang kusut, lusuh dan complang-campling. Ada yang merasa
dirinya paling besar ketika menggunakan pakaian yang lebih besar dari postur
tubuhnya, padahal jika memakai pakaian yang kebesaran kan dilihat lucu. Jika
sedemikian, kambing saja diberi pakaian tuxedo pasti dianggap stylish.
Semua
bagian yang menonjolkan dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia kenakan, itu
adalah indikasi akal-akalan dari politik pencitraan. Coba saja pikirkan, apa mungkin
kalian tau jika orang yang memakai pakaian putih itu bisa saja di dalam
pakaiannya terdapat suatu konsep kemunafikan, walaupun konsep tersebut tidak
langsung terlihat secara materiil, tetapi akhlak. Bisa saja orang yang
berpakaian hitam-hitam layaknya seorang dukun, orang yang berpakaian berantakan
ala gembel jalanan, di dalam pakaiannya malah terdapat beratus kitab kemuliaan nurani
yang menjadi golongan jiwa. Bisa saja lho! Ya kalo kita bisa berpikir bahwa
yang baik itu belum tentu baik, berarti kita juga harus dapat berpikir bahwa
yang buruk itu belum tentu buruk. Alur berpikir dituntut untuk adil, artinya
objektif.
Bukan negative
thinking. Tetapi alangkah baiknya kita mawas diri dan melihat secara lebih
jauh, mengamati dan sedikit membuat penelitian terlebih dahulu, tidak usah
terlalu cepat untuk mengambil keputusan atau menghakimi sebuah pakaian. Toh
sebenarnya kita tidak mempunyai hak umum untuk masalah nilai-menilai dan menghakimi.
Itu hanya cukup digunakan untuk menjadi pandangan dan referensi pribadi.
Terlalu banyak manusia yang menyebut dirinya bersih
karena memakai pakaian yang putih. Itu diri mereka sendiri lho, yang menyebut
bahwa dirinya itu bersih dan pakaian yang mereka gunakan juga bersih. Jika
sudah begitu mereka-lah yang selalu paling merasa. Merasa benar, merasa tanpa
noda, merasa terbebas dari kotoran. Padahal rule
of logic seperti itu terbalik. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah
dan berpotensi untuk melakukan hal-hal hitam dibandingkan orang-orang yang
berpakaian hitam itu sendiri. Orang yang berpakaian putih itu lebih mudah untuk
menyembunyikan kotoran dan noda, karena pakaian mereka terkesan bersih,
seakan-akan pakaian yang mereka gunakan selalu tanpa noda dan rapi. Mereka
lebih berbahaya, karena kehitaman mereka lebih tidak dapat dijangkau oleh kasat
mata. Dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian hitam, mereka lebih susah
dan lebih mudah gelisah. Jika orang-orang hitam ini hendak melakukan sesuatu
atau aktivitas mereka yang berunsur kehitaman juga, mereka akan lebih gampang terinvestigasi
dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian putih, yang lebih mempunyai
potensi untuk menyembunyikan hal yang kehitaman itu. Orang yang berpakaian
hitam juga lebih sering dilema, karena dengan apa yang ia kenakan, ia selalu
menjadi bahan penghakiman seseorang terhadap dirinya. Dirinya selalu dianggap
hitam karena pakaiannya yang berwarna hitam.
Putih, hitam, merah, hijau yang hikiki itu letaknya di
dalam roh.
Warna putih, hitam, merah, hijau hanya sebuah partikel pengantar estetik dari roh. Untuk melakukan kebaikan juga seperti itu. Jika memang roh kita berniat putih, maka ndakusah terlalu menonjolkan warnanya dengan kesombongan, pamer, menujuk dirinya sendiri bahwa dirinya adalah manusia yang suci karena pakaian yang digunakannya bersih. Kebaikan itu sebaiknya ndakusah diumbar, kalo bisa malah jangan sampai ketahuan siapapun jika melakukan kebaikan. Jika warna putih itu dikibar-kibarkan, kebaikan itu dipamerkan dan kebenaran itu digunakan untuk membunuh, maka kita memang perlu bertanya diri, apakah ada maksud dibalik semua warna putih itu?
Langit itu tidak perlu memberi tahu kepada siapapun bahwa dirinya langit. Begitupun sisi yang berlawan dengan putih, artinya hanya berlawanan warna. Belum tentu berlawanan artinya melawan, tidak setuju atau bertolak belakang dengan kebersihan pakaian putih. Itu kan hanya warna. Jangan gampang dibohongi dengan warna. Mereka yang berpakaian hitam juga belum tentu mempunyai langkah yang menyimpang, menurut riset awam. Tetapi cobalah bersama-sama kita menyelami semua yang ada dibalik warn. Jangan gampang membuat keputusan atau menghakimi sesuatu yang hanya terlihat warnanya saja.
Warna putih, hitam, merah, hijau hanya sebuah partikel pengantar estetik dari roh. Untuk melakukan kebaikan juga seperti itu. Jika memang roh kita berniat putih, maka ndakusah terlalu menonjolkan warnanya dengan kesombongan, pamer, menujuk dirinya sendiri bahwa dirinya adalah manusia yang suci karena pakaian yang digunakannya bersih. Kebaikan itu sebaiknya ndakusah diumbar, kalo bisa malah jangan sampai ketahuan siapapun jika melakukan kebaikan. Jika warna putih itu dikibar-kibarkan, kebaikan itu dipamerkan dan kebenaran itu digunakan untuk membunuh, maka kita memang perlu bertanya diri, apakah ada maksud dibalik semua warna putih itu?
Langit itu tidak perlu memberi tahu kepada siapapun bahwa dirinya langit. Begitupun sisi yang berlawan dengan putih, artinya hanya berlawanan warna. Belum tentu berlawanan artinya melawan, tidak setuju atau bertolak belakang dengan kebersihan pakaian putih. Itu kan hanya warna. Jangan gampang dibohongi dengan warna. Mereka yang berpakaian hitam juga belum tentu mempunyai langkah yang menyimpang, menurut riset awam. Tetapi cobalah bersama-sama kita menyelami semua yang ada dibalik warn. Jangan gampang membuat keputusan atau menghakimi sesuatu yang hanya terlihat warnanya saja.
Semua orang, bahkan binatang-pun punya hak untuk memakai
pakaian berwarna apa saja. Menjadi seimbang dengan kewarnaan akan menjadi
bagian dari akhlak, kecuali binatang yang walaupun diberi pakaian warna apa
saja, polah-nya ya akan seperti itu,
tidak punya akal. Jangan gampang membuat draft
penghakiman berdasarkan dimensi warna. Bukan bermaksud untuk berpikir buruk
mengenai warna suatu pakaian, tetapi untuk bahan refleksi saja bahwa apa yang
kita berikan dan apa yang kita lakukan itu akan menjadi bagian dari busana
diri. Bukan warna apa yang kita gunakan, tetapi orientasinya adalah apa yang
kita warnai.
Pada
dasarnya penilaian kita terhadap suatu hal apapun itu hanya sebatas tafsir dan
pencarian diri. Penilaian kita terhadap sesuatu tidak bisa sepenuhnya menjadi
benar, pasti selalu ada misteri yang tidak bisa kita ungkapkan melalui tafsir.
Tetapi semua itu adalah kewajaran manusiawi. Di dalam kehidupan duniawi ini, dimensi
kewarnaan sudah terlalu banyak yang menjadi bahan untuk kita mentahkan.
Juwana, 11 Juli 2017
Rizqi Bagus
Rizqi Bagus
Senin, 09 Oktober 2017
Bayangan itu Ada
Ada pepatah mengatakan,”jangan menggantungkan dirimu
kepada orang lain, karena bayanganmu akan meninggalkanmu saat gelap”. Secara
riil apa yang bisa kita rasakan tentang bayangan?. Di saat diri kita tersorot
oleh partikel cahaya, ya partikel cahaya, bukan cahaya!. Saat kita tersorot
oleh partikel cahaya, sering kita melihat secara kasat mata ada hitam-hitam
disekitar kita, yang biasa kita sebut bayangan. Padahal secara pandangan yang
lebih ensensial bayangan itu sebenarnya ya bukan hanya itu-itu saja, bukan
hanya hitam-hitam di sekitar kita, bukan hanya pantulan diri kita yang muncul
saat kita tersorot oleh partikel cahaya. Jika kita perhatikan dan cermati lebih
dalam, hitam-hitam yang kita maksud bayangan itu kan yang selalu ada disekitar
kita jika ada partikel cahaya yang menerjang diri kita, entah itu available light atau artificial light. Hitam-hitam itu selalu
ada di depan kita saat kita membelakangi cahaya, ada di belakang kita saat kita
ada di depan cahaya, selalu ada disamping kanan-kiri kita jika cahaya ada di
samping-samping kita dan ada disamping kanan-kiri-depan-belakang kita saat
cahaya itu ada tepat diatas ubun-ubun kita. Mereka terus ada selama masih ada
partikel cahaya.”Lalu jika tidak cahaya, kemana mereka pergi?”.
Secara ilmiah itu hanya kondisi tidak adanya pembiasan cahaya yang disebabkan oleh ada dan tidaknya partikel cahaya, maka tidak ada proses pembiasan cahaya dan partikel cahaya tidak dapat diproses menjadi bayangan.
Secara ilmiah itu hanya kondisi tidak adanya pembiasan cahaya yang disebabkan oleh ada dan tidaknya partikel cahaya, maka tidak ada proses pembiasan cahaya dan partikel cahaya tidak dapat diproses menjadi bayangan.
Setiap manusia itu memiliki naluri, rasa dan jiwa
bayangan yang hidup, mungkin kadang-kadang biasa disebut roh. Bayangan adalah
sahabat diri kita yang ada di dalam kelokan nurani kita. Jika dianalogikan, roh
adalah software kita, tetapi bayangan itu ada dari unsur kedua-duanya, ya
software ya hardware. Penyambung antara roh dan jasad. Banyak perumpamaan dan
simulasi mengenai bayangan itu sendiri. Mulai dari hal atau sifat yang sangat
konvensional sampai ke hal atau sifat yang tidak masuk ke dalam urat nadi rasa
kita. Contoh : saat kita masih kecil, seringkali kita dengan tidak sengaja
bermain dengan bayangan kita sendiri, mencoba mengejarnya, mencoba berlari
darinya, mencoba menangkapnya, mencoba meraihnya, merasakannya dan masih banyak
lagi hal-hal konyol yang kita jalani bersama bayangan saat masa kanak-kanak
itu. Kita sangat menyatu dengan bayangan bukan? Kita bermain-main, bergembira
ria, bersenang-senang dengannya tanpa mengenal banyangan siapa itu. Toh kita
juga tidak tanya yang aneh-aneh tentang mereka, yang penting kita gembira dan
senang saat bermain kejar-kejaran bersama mereka. Sangat menyatu sekali, kita
dengan bayangan hitam-hitam itu. Mungkin pertanyaan yang umum terlintas adalah ”Siapa
dia? Dia adalah aku bukan? Atau aku adalah dia?”. Daripada pusing-pusing
memikirankan hal sepertu itu, layaknya anak kecil ya yang penting hanya senang
dan asal tidak menangis kan sudah beres, walapun bermain dengan setan sekalipun
jika hati senang dan gembira ya apa boleh buat.
Bayangan itu memang benar selalu ada, jika masih tidak
percaya buktikan saja. Saat terik menyambar, silahkan pergi keluar rumah atau
pergi ke tempat yang lapang lalu berdiri diatas terik, maka mereka hitam-hitam
itu akan muncul disekitar kita, mengeliling kita dan bercerita tentang kita. “Lalu
bagaimana saat gelap?” Ya mereka masih tetap ada, tetapi mereka hanya mempunyai
intensitas pencahayaan yang sangat minim, lebih minim lagi dibandingkan gelap.
Maka dari itu, bayangan saat gelap menjadi tidak kasat mata. “Namun masih bisa dirasakan
bukan?” Apapun yang kamu miliki dalam kehidupan ini, dari hal apa saja, mulai
dari yang bersifat countable hingga uncountable. Bayanganmu ya mempunyai hak
pakai yang sama. Hingga kamu punya mobil sekalipun, bayanganmu ya juga ikut
serta untuk memilikinya. Softkill-pun
seperti demikian, kamu nambah ilmu ya bayanganmu sama-sama ikut belajar dan
nambah ilmu juga. Kamu pikir, jika kamu makan bayanganmu itu kemana? Jangan
berpikir saat kamu makan itu nasinya dimakan setan, jadi bayanganmu adalah
setan? Bukan. Saat kamu makan nasi sayur, ikan asin, tempe dan minumnya es teh.
Dalam regulasi penggunaan hak, otomatis bayanganmu akan ikut merasakan makanan
dan minuman itu. Walaupun menurutmu makanan yang sudah kamu kunyah sebanyak 32x
atau 33x itu langsung dan hanya turun ke tenggorokan, usus, lambung dan
seterusnya. Sebenarnya tidak usah muluk-muluk. Dimanapun dirimu, ya disitu ada
bayanganmu. Saat kamu dalam keadaan suka duka, senang sedih, tenang gelisah dan
perasaan-perasaan lain yang mampu dicapai oleh kejiwaan manusia, bayanganmu ya
tetap saja ada didalam dirimu, tetap saja ada didepanmu ketika kamu sedang
membelakangi cahaya. Mau jadi copet, preman
pasar, tukang koran, tukang siomay keliling, tukang parkir, tukang parkir
jabatan, pejabat konstitusi maupun negara, perdana menteri, presiden hingga
tukang sapu jalan raya-pun bayanganmu akan tetap masih ada didalam dirimu,
bersamamu dan yang jelas bayangan tidak akan pernah jauh-jauh pergi dari
dirimu. “Sangat loyal bukan? Begitu
kejamnya kita, jika kita mengkhianatinya”
Dari semua tingkatan, jabatan, kedudukan apapun itu akan kembali menjadi kosong isinya jika mereka menyadari bayangan-bayangan yang dimiliki. Arti yang dimaksudkan kekosongan dalam bayangan adalah pola nurani. Bayanganlah yang mampu memperlihatkan secara hakiki bahwa sebenarnya kita semua itu sama, namun tetap saja masih banyak dan sebagian besar dari kita belum mau untuk menyadari bayangan. Kamu pikir jika kamu sedang terpuruk, sedih, galau lalu kamu komat-komit sendiri, gremeng-gremeng sendiri, nangis sendiri, bicara keluh-kesah sendiri, kamu itu sendirian? Bukan! Bayangan kan sangat loyal kepadamu. Jika kamu masih bilang sendirian ya ndakpapa, mungkin kamu belum menyadarinya. Coba saja, saat kamu sedang galau atau dilema dan dihadapkan pada sebuah pilihan yang menentukan hidupmu, pasti pertama kali kamu konsultasi adalah dengan bayanganmu. Masih merasa tidak? Ya sadari saja, jika kamu ngomong sendiri lalu kamu jawab sendiri emang kamu pikir itu siapa? Bayanganmu itu selalu berinteraksi dengan dirimu, hanya kamu saja yang mungkin harus mencoba untuk menyadarinya.
Saat kamu sedang emosi hingga menggebu-gebu lalu kamu marah sendiri, sambil berkata ”Aku ini bodoh!”. Lalu seringkali bayanganmu seketika menjawab,”Sudahlah sabar, semua pasti ada hikmahnya kok”.
Jika kamu sedang merasa kesepian, banyak usaha yang dilakukan oleh bayanganmu untuk mencoba menghiburmu agar hampamu lenyap. Saat dirimu sedang merasa kesepian seringkali bayangan mengatakan ”Aku tidak sendirian, aku selalu bersama Tuhan dan Tuhan selalu ada didalam hatiku”, lalu dalam sekejab kamu akan merasa lebih tenang.
Jika kamu sedang bahagia, sering juga bayangan mengingatkan dan menasehatimu ”Ingat, jangan sombong dan selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaanmu itu”, lalu kamu akan rendah hati dan tidak berlebihan.
Jelas pasti masih banyak lagi fenomena-fenomena tentang bayangan itu, yang setiap orang berbeda cara mengalaminya dan menyadarinya.
Dalam diri kita terdapat tiga unsur yaitu hati, pikiran
dan jasad. Hati adalah unsur yang paling kuat diantara pikiran dan jasad.
Tetapi dalam konteks yang lebih dibilang realistis, implementasinya adalah
hanya pikiran dan jasad yang seringkali mengendalikan diri kita, padahal unsur
tersebut mempunyai sisi kelemahan yang kompleks jika tanpa didasari dan
dilandasi rasa oleh hati. Namun peran bayangan dalam hal ini yaitu tetap menjadi
dirimu yang sejati, yang selalu menemani dirimu dalam keadaan dan fatamorgana
apapun. Jangan hianati, jangan tinggalkan dan kenali bayanganmu sendiri. Selalu
bersama mereka. Selalu ingat, bahwa bayangan adalah sebuah konsep dan perasaan
mengenai dirimu yang hakiki. So, Apakah dirimu sudah bertemu dengan bayangan?
Juwana,
26 Juni 2017
Rizqi Bagus
Rizqi Bagus
Khayal Kita
Boleh saja jarak, waktu dan keadaan memisahkan kami. Tapi pikiranku tak akan pernah membohongi bahwa aku akan bisa kapan saja berkhayal tentang dia, seakan-akan dia duduk disampingku sembari minum teh berdua. Padahal sia saja jika aku seorang diri untuk menikmati kehangatan teh pada malam itu. Untung saja aku mempunyai khayal yang mampu membuat aku seakan-akan terbang, entah bersama khayalnya atau malah bersama kamu langsung, atau bisa saja sendirian. Tetapi intinya khayalku akan selalu memberikan diriku sesuatu yang indah, yang selalu membuat diriku optimis untuk melakukan hal-hal pesimis menurut diriku sendiri. Jika khayalnya juga menghendaki sesuatu yang sama seperti apa yang dirasakan oleh khayalku, maka kemungkinan besar khayal kami akan saling bertemu di puncak kerinduan yang sangat dalam. Aku dan dia ya seolah-olah tidak berbuat apa-apa, paling hanya menunggu jarak, waktu, dan keadaan untuk menjadi sebuah satuan variabel yang megantarkan kami untuk saling bertemu secara langsung. Tetapi siapa tau jika khayal kami ternyata sudah bercinta diatas sana mewakili perasaan yang tidak bisa dirasakan oleh indera kami. Manis sekali mereka diatas sana, seolah-olah kami sudah bahagia, padahal belum, seolah-olah kami sudah terbang tanpa beban, padahal jelas-jelas kami masih sama-sama menginjak tanah dan menyangga beban berat tubuh, seolah-olah dunia hanya milik kami berdua, padahal kami masih mempunyai dunia masing-masing. Tetapi hanya khayal-lah yang selalu meyakinkan kami, bahwa saat yang kami tunggu-tunggu itu, variabel yang terdiri dari komponen jarak, waktu dan keadaan akan ada masanya, artinya kemungkinan besar ya akan terjadi. Aku juga yakin bahwa khayal mampu menciptakan ketulusan dan kejujuran substansial, menciptakan kebahagian yang hakiki tanpa masuk logika, namun dapat kita rasakan.
Saat khayal berkata,”kala senja”. Itu terlalu muluk-muluk
menurutku, untuk dapat mencapai sebuah satuan variabel yang mampu mempertemukan
jasad kami secara langsung. Kata yang lebih tepat adalah “kala maghrib itu”. Saat
kami ternyata sudah mampu mencapai variable yang sulit itu, akhirnya kami dapat
bertemu dan bertatapan muka secara langsung walaupun terkadang kami masih
saling menjaga image, menjaga tutur
kata dan pola kalimat agar tidak gagap saat ngomong, masih malu-malu jika ada
sesuatu yang seharusnya itu jujur. Niat kami memang sangat kuat untuk saling
bertemu, untuk menyambung jalinan cinta kasih kami dan agar hutang rindu kami
segera terbayar. Namun terjadi sesuatu yang besar saat kami telah ngobrol
selama kurang lebih 30 menit yang garing itu. Secara tiba-tiba ternyata khayal
menghilang, aku bingung dan kelabakan. Aku pun sempat berpikiran buruk terhadap
khayal, bahwa khayal telah menghianatiku, khayal telah menghianti kami berdua. Pikiran
kami mungkin melayang kemana-mana saat itu, aku berpikir bahwa dia telah kecewa
karena khayalnya juga menghilang, tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan
oleh khayal kami diatas sana, diatas pikiranku. Aku juga merasa minder,”apakah
khayalku yang aku pikirkan kemarin itu, ada khayalnya dia juga. Apa aku cuman
berprasangka bahwa khayalku saat itu bersama khayalnya. Atau bisa saja yang aku
pikirkan kemarin itu adalah khayalku bersama khayal yang lain. Berarti
kemungkinan dia tidak berpikiran sama sepertiku, berpikiran bahwa khayal kami
berdua telah berbahagia diatas sana”. 10 detik aku menggumam sendirian di dalam
hati. Ternyata aku langsung mengambil kesimpulan bahwa saat itu khayalku memang
tidak bersama khayalnya, tetapi aku juga mempunyai kesimpulan lain bahwa
khayalku benar sedang mencari khayalnya tetapi memang belum mendapatkannya,
lalu berusahalah khayalku itu untuk berkhayal agar bisa membayangkan sebuah
kisah percintaan dengan khayalnya didalam lorong khayalan. Tambahan 10 detik
lagi untuk mengambil kesimpulan. Tepat 30 menit 21 detik aku bersama dia saat
itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk jujur dan menanyainya mengenai
khayalnya dia.
“Kemarin kamu memikirkan aku? “ tanyaku
“Aku selalu memikirkanmu.” jawabnya
“Memikirkan tentang apa?”
“Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu.”
“Kamu menemukan khayalku disana?”
“Kamu bicara apa? Tidak, aku tidak pernah merasa berkhayal tentang siapapun. Jangan aneh-aneh.” dengan nada sinis
“Lho, bukannya kemarin khayal kita bertemu?”
“Dasar aneh.”
“Kemarin kamu memikirkan aku? “ tanyaku
“Aku selalu memikirkanmu.” jawabnya
“Memikirkan tentang apa?”
“Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu.”
“Kamu menemukan khayalku disana?”
“Kamu bicara apa? Tidak, aku tidak pernah merasa berkhayal tentang siapapun. Jangan aneh-aneh.” dengan nada sinis
“Lho, bukannya kemarin khayal kita bertemu?”
“Dasar aneh.”
Ternyata kesimpulanku benar, tetapi masih ada dua
kemungkinan pada kesimpulanku tersebut. Lalu aku tanyakan kembali padanya,
namun menggunakan bahasa yang bisa lebih dimengerti dan menganalogikan khayal
tersebut dengan sesuatu yang lebih konvensional.
“Kamu
pikir kamu sudah bertemu dengan aku? “ tanyaku
“Secara langsung aku dapat kapan saja bisa bertemu denganmu”.
“Tetapi diriku yang sebenarnya?”
“Belum, aku selalu memikirkanmu dengan tujuan agar aku bisa lebih mengenalimu, maka dari itu aku kadang berpikir kenapa aku dulu bisa mengenalimu.” jawabnya
“Oh begitu ya”
“Hmmm.”
“Secara langsung aku dapat kapan saja bisa bertemu denganmu”.
“Tetapi diriku yang sebenarnya?”
“Belum, aku selalu memikirkanmu dengan tujuan agar aku bisa lebih mengenalimu, maka dari itu aku kadang berpikir kenapa aku dulu bisa mengenalimu.” jawabnya
“Oh begitu ya”
“Hmmm.”
Ada
suatu kepastian yang bisa aku dapatkan dari jawabnya itu, yaitu dia memang
benar-benar serius ingin hidup bersamaku. Ya kalo dilihat dari alasannya. Tapi
setelah aku berpikir lagi ternyata bukan kepastian tapi malah tabu. Bisa saja
setelah dia memikirkanku dan mengenaliku lebih dalam, dia malahan tidak
tertarik dengan aku karena mungkin saja aku bukan tipe yang masuk dalam
kriteria pasangan yang dia cari.
Tetapi
aku harus mempunyai pilihan untuk yakin menjadi diriku sendiri. Tanpa khayalku
lagi, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang membuat diriku jadi bingung sendiri,
akhirnya aku memilih untuk yakin menjadi diriku sendiri. Ternyata dari sesuatu
yang disampaikan oleh khayalku kemarin itu, sangat relevan dengan jawaban dia
tadi,”Tentang bagaimana aku dulu bisa mengenalimu”. Daripada hal-hal aneh
membebani pikiranku, saat itu aku berpikir yakin saja bahwa kedua hal itu
memang relevan. Bahwa pada saat yang bersamaan, saat aku sedang minum teh, lalu
dia sedang memikirkanku, ternyata khayalan kami memang benar-benar saling
bertemu dengan konteks yang berbeda tetapi dalam ruang waktu yang sama. Dia
sedang memikirkanku untuk mengenaliku, aku sedang minum teh sambil memikirkan
tentang kebahagian kami. Aku merasakan khayalku dan khayalnya, tetapi dia tidak
merasakan apa-apa tentang yang khayal itu. Mungkin bisa saja semua yang aku
tafsirkan kemarin itu salah semua, karena secara rasional untuk melakukan
pembenaran terhadap tafsirku itu memang tidak ada, mungkin malah tidak
nyambung. Namun aku sangat yakin, pasti banyak nilai-nilai krusial yang disampaikan
oleh khayalku kemarin itu. Aku tetap saja merasa bodoh atas khayalku dan merasa
dihianati olehnya walaupun aku sudah mencoba mengganti intensitas pandangku
secara lebih konvensional dan yakin terhadap kenyataan. Kami pulang, dijalan
aku masih berpikir,”apakah dia berbohong tentang khayalnya itu? Padahal
khayalku jelas-jelas bertemu dengan khayalnya diatas sana tapi dia sendiri
bilang tidak pernah merasakan apa-apa”. *ternyata khayal itu hanya bisa dipahami
menggunakan rasa dan naluri cinta, tidak menggunakan ilmu.
Pati,
22 Juni 2017
Langganan:
Komentar (Atom)

